Pulang
For read a book, Please sign into your account.
loginNovel ini bertemakan self Fiksi Sejarah dan Fiksi Politik. Seperti yang dapat dilihat bahwa buku ini mengajarkan kita pembacanya akan apa yang terkuak oleh Lintang bukan sekadar masa lalu ayahnya dengan Surti Anandari, tetapi juga bagaimana sejarah paling berdarah di negerinya mempunyai kaitan dengan Ayah dan kawan-kawan ayahnya.
Tiara Syaharani
1 year agoKeren banget sih , alur ceritanya ga membosankan , penulisan nya juga tertata dan ini buku novel pertama aku baca yang memiliki cerita sejarah dengan dikemas secara menarik , apalagi halaman nya tidak terlalu banyak jadi cocok untuk para pembaca pemula yang ingin membaca buku novel , ayo baca seru banget soalnya!!
Vina Cahyarani XII IPS 3
1 year agocerita ini tidak hanya tentang politik, tapi juga tentang keluarga, identitas, dan rasa kehilangan. penulis menggambarkan bagaimana sulitnya hidup jauh dari rumah, apalagi saat tidak bisa kembali. di sisi lain, novel ini juga menunjukkan perjuangan generasi selanjutnya, seperti Lintang, anak Dimas, yang mencoba memahami masa lalu ayahnya dan hubungannya dengan Indonesia. yang membuat novel ini menarik adalah bagaimana penulis menggabungkan sejarah dan fiksi dengan gaya bahasa yang puitis tapi tetap mudah dimengerti. kita diajak merasakan berbagai emosi, dari cinta, amarah, sampai kerinduan. selain itu, setting-nya yang berpindah-pindah antara Paris dan Indonesia membuat cerita terasa hidup dan berwarna.
-
- 1 year ago
Wahh novelnya sangatt bagus sekali, sayaa suka alurnya ga ngebosenin.
Rahma XII IPS 1
1 year agoBuku ini merupakan eksperimen membaca yang baru bagi saya karena didalamnya terdapat isu politik yang begitu pekat yang diselimuti oleh cerita pilu dan tragis yang dialami oleh masing-masing karakter (re: Dimas, Lintang, Alam). Saya suka membaca chemistry antara Dimas dan Vivienne, yang walaupun Dimas belum sepenuhnya berpindah hati dari mantan pujaan hatinya ia tetap memperlakukan Vivianne layaknya seorang istri. Bahkan chemistry antara Lintang dengan Alam, anaknya Mas Hananto termasuk lucu juga. Saat membaca rasanya seperti ikut diajak menggali lagi peristiwa kelam sesaat setelah tahun '65, sejarah yang terjadi di Indonesia, termasuk hubungan rumit antara Dimas, Surti dan Mas Hananto. Endingnya membuat pembaca merasa lega, setidaknya Dimas dapat beristirahat sesuai keinginannya saat masih hidup, di tanah Karet. Kehidupan eksil politik memang tidak semudah dan tidak setentram yang pembaca kira, saya merasakan sekali saat membaca buku ini. Bagaimana rasanya dikejar-kejar (literal) dan dikejar-kejar masa lalu. Program Bersih Diri dan Bersih Lingkungan yang diadakan oleh pemerintah Indonesia malah menambah teror, digunakan untuk memancing salah paham, balas dendam, bahkan sesuatu alasan yang tidak berhubungan sama sekali dengan kejadian G30S PKI. Sungguh memilukan membaca bagaimana kelamnya suasana di Indonesia setelah kejadian tersebut. Hal ini hanya bisa dijadikan sebuah pengalaman, juga peringatan bahwa sehitam-hitamnya sesuatu, ia tidak akan hitam sempurna, dan seputih-putihnya sesuatu, ia tidak akan putih sempurna. Tidak ada yang sangat salah juga sangat benar di dunia ini.